Selasa, 14 September 2010

jalan fazz

Saya menganjurkan para pembaca mencermati buku ‘Tujuh Langkah Menuju Muslim Ideal’. Di dalamnya mengupas secara tuntas pola pembinaan Rasulullah SAW dalam menata ulang pola pikir, orientasi, perilaku dan kepribadian masyarakat jahiliyah secara sistematis.

Pertama, ada proses spiritual terlebih dahulu, yakni dijinakkan hatinya  dan dicelup dengan adab (prawahyu), agar puncak kerusakan kepercayaan (syirik) dan puncak kerusakan moral (tagha, sombong) terkikis sampai ke akar-akarnya, sehingga lahir tanggung jawab melaksanakan misi kehidupan dan merasa butuh kepada Allah SWT

Kedua, dirubah cara memandang totalitas wujud, alam sekitar dan dirinya sendiri, dengan mengembalikan kepada Al Khaliq, sebagai sumber cipta dan sumber ilmu (Al ‘Alaq 1-5).

Ketiga, setelah seseorang mengenal Rabb, maka sangat memerlukan panduan hidup yang otentik dan orisinil (al Quran). Dengan Al-Quran dijamin tidak akan gila harta, tahta dan wanita (al-Qalam 1-7).

Keempat, ternyata menghayati dan membumikan Al-Quran tidak semudah membalik telapak tangan.

Kelima,, maka Allah SWT memberi bekal spiritual agar bisa survive dalam menjalankan misi membumikan al Quran. Menatap realitas kehidupan dengan jiwa besar. Dengan cara melakukan shalat malam, membaca al Quran dengan menghadirkan hati, sabar, tawakkal, tabattul (mengambil jarak sebentar dari kesibukan untuk focus dalam taqarrub kepada Allah SWT secara all out) dan hijrah secara ma’nawi (meninggalkan dosa) dan makani (mencari lingkungan sosial yang kondusif) (al Muzzammil (1-10).

Keenam, kenikmatan ruhani yang diperoleh bukan untuk kepentingan individual, tetapi sebagai bekal untuk memetakan dan mengurai satu demi satu persoalan sosial, bukan memposisikan diri sebagai penonton (al Muddatsir 1-7).

Ketujuh, setelah massa yang dicerahkan itu memiliki jumlah yang signifikan (jumlah shalat jamaah, shalat jum’ah dan shalat hari raya sama), mereka dikelola dalam struktur dan kultur masyarakat Al Fatihah (draft Al Quran). Yang memiliki kesiapan memahami, menghayati dan mengamalkan Al-Fatihah, secara otomatis memiliki kesiapan untuk menyerap nilai-nilai al Quran  secara keseluruhan.

Sebelumnya, bangsa Arab kehilangan ruh (spirit) kehidupan. Setelah dicerahkan dengan tahapan turunnya Al Quran, menemukan ruang untuk potensialisasi dan aktualisasi kepribadiannya secara proporsional. Sehingga kehidupan yang baru bisa dimaknai dan dinikmati.

“Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy Syura (42) : 52). [www.hidayatullah.com]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar