Selasa, 14 September 2010

penawar

Penyakit Krisis Makna Kehidupan

Salah satu penyakit kejiwaan yang menggejala di dunia modern saat ini adalah ‘penyakit makna’ atau ‘krisis makna’. Fenomena ini terjadi tanpa tebang pilih/pandang bulu. Bisa menimpa orang yang gagal dalam mewujudkan obsesi kehidupannya, maupun orang yang sangat sukses/bahkan berada di puncak sukses. Dia berhasil melewati kesulitan untuk mencapai keberhasilan, dan terbukti tidak mampu bertahan di puncak.

Merintis kesuksesan itu sulit, dan lebih rumit lagi mempertahankan keberhasilan yang sudah diperjuangkan dengan susah payah. Dan ternyata sukses baru bermakna jika secara lahir dan batin. Dalam menjalani kehidupan dengan segala dinamika dan fluktuasi yang menyertainya, disamping manusia memerlukan asupan gizi jasmani, pula menu ruhani.

Kehidupan jahiliyah modern yang individualistik (ananiyah), mempersepsikan orang lain bukan sebagai mitra tetapi rivalitas, sangat rasional dan terkesan rigid (kaku) serta monoton, kemajuan teknologi informasi yang mengalami percepatan (akseleratif), perbedaan pendapat yang dipandang secara negatif,  perebutan pendapatan (income), pengaruh, kekuasaan, persaingan kerja yang tidak sehat, longgarnya nilai-nilai humanistik, lemahnya komitmen kebersamaan, pencarian kekayaan tiada akhir dan tanpa henti, ajaran agama yang dikomunikasikan secara dogmatis, hiruk pikuk politik yang gegap gempita, pada akhirnya melemparkan individu pada kekosongan hidup. Lalu menyisakan pertanyaan yang tidak mudah dijawab, untuk apakah semua ini ?. Apakah arti kehidupanku ini ?

Cara yang paling jitu dan umum/merata yang harus ditempuh oleh kita yang kehilangan makna kehidupan ini agar memperoleh kembali keutuhan jiwa adalah membangun sandaran spiritual dengan cara mendalami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai agama (tafaqquh fiddin) sebagaimana yang diperagakan Rasulullah SAW ketika menyembuhkan patologi sosial masyarakat Jahiliyah klasik. Sebagaimana muatan buku “Tujuh Langkah Menuju Muslim Ideal” ini.

Rasulullah SAW mengadakan revolusi moral secara total dan utuh terhadap bangsanya. Krisis global yang menimpa dunia hakikatnya adalah diawali dari krisis jiwa (kesempitan batin) sebelum krisis ekonomi, politik, sosial dll. Sungguh tiada negeri yang sempit, karena sesak dengan penduduknya. Melainkan moral merekalah yang membuatnya sempit, meminjam ungkapan ahli sastra Arab.

Kunci perubahan di dunia dan berakhir di akhirat, terletak pada kekuatan internal jiwa (moralitas).

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[malaikat hafazhah]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[sebab-sebab kemunduran] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
(QS. Ar Ra’d (13) : 11).

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat posisinya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya, yang senang membantu, yang mau menjalin persaudaraan dan mau dijalin.” (al Hadits).

Sudah tentu akhlak yang dimaksud oleh Islam mencakup bidang kehidupan yang lebih luas, seperti mengendalikan jiwa, berkata jujur, ihsan dalam berbuat, amanah dalam bermu’amalah, berani berpendapat sekalipun pahit, adil dalam menetapkan hukum, berpegang teguh dengan kebenaran, keinginan yang kuat (azam) untuk melakukan amal shalih, amar bil ma’ruf dan nahi ‘anil mungkar, menjaga kebersihan lahir dan batin, menghormati peraturan dan saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Dan pantang bersinergi dalam perbuatan dosa dan permusuhan.

Dalam sejarah perjuangan Rasulullah SAW, sejak fase Mekah sampai periode Madinah, beliau memperoleh kemenangan spektakuler (intishar kubra). Dalam waktu kurang ¼ abad, beliau mampu merekonstruksi kepribadian bangsa Arab yang nomaden, tidak terstruktur dan berjiwa kerdil (suka berperang  karena dipicu persoalan sepele), menjadi sosok manusia yang memiliki kesiapan memimpin dunia (leader). Bukan pemimpin formal, yang dalam prakteknya sebagai  calo, seperti dalam ‘negara para bedebah’.

Dalam haji wada’ dicatat, pengikut beliau berjumlah 125.000 orang, terdiri dari 110-111 ulama. Diantara para ulama itu ada tujuh ulama besar (I’lamul Muwaqqi’in, Ibnul Qayyim).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar