Selasa, 14 September 2010

potret

Melawan Animisme di Daerah Terpencil NTT

E-mail Print PDF
Sekitar 3 tahun membina dakwah di pendalaman,  angka mualaf naik drastis. Ada sekitar 500 orang yang telah masuk Islam
Hidayatullah.com--Lelaki setengah baya terlihat duduk sambil serius mendengarkan paparan seorang ustadz. Pandanganya fokus ke depan. Khidmat. Setiap arahan yang disampaikan ustadz tersebut, didengarkannya penuh seksama. Seolah, tak ada satu pun kata yang lewat.
Lelaki itu tidak lain, Abdul Qadir Lenama. Qadir demikian akrab disapa, di siang awal Juli lalu sedang mengikuti acara “Temu Dai Terpencil Tingkat Nasional” yang digagas Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PP. Muhammadiyah di masjid Al-Ikhlas kota Gudeg, Yogyakarta.
MTDK  menyelenggarakan pertemuan dengan tema “Temu Da’i Terpencil Tingkat Nasional” di sela-sela kegiatan Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta.  Karena sebagian da’i terpencil ini ada yang merangkap sebagai peserta Muktamar Muhammadiyah dan sebagian lagi sebagai penggembira, maka, acara ini sengaja diadakan mengambil momentum Muktamar Muhammadiyah agar bisa  menghemat biaya.
Di sela-sela padatnya acara, Qadir menyempatkan berbagi cerita perjalanan dakwahnya di daerah terpencil. Inillah ceritanya yang ditulis wartawan hidayatullah.com.
Perjalanan Dakwah
Qadir berperawakan sedang dengan kulit berwarna hitam. Sorot matannya tajam. Tapi, setiap kata yang diutarakannya begitu dalam. Ada selaksa hikmah yang terkandung di dalamnya. Qadir adalah dai asal kec. Amanuban Timur, Kab. Timur Tengah Selatan, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ketertarikan Qadir menjadi dai timbul sejak kecil, 8 tahun. Waktu itu, sekitar 1967, Qadir kerap mendapati penduduk di desanya melakukan kegiatan animisme.
Sebenarnya, kegiatan itu wajar. Pasalnya, mereka memang bukan Islam. Di desanya itu, dari jumlah penduduk sekitar 15 ribu jiwa, yang muslim hanya kira-kira 3-4 ribu orang. Selebihnya, kalau nggak Kristen, pasti animisme. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar