Rabu, 15 September 2010

proses dinamic


Kiat Jitu Mengelola Krisis Makna Kehidupan

E-mail Print PDF
Kehidupan jahiliyah modern yang  ananiyah, mempersepsikan orang lain bukan sebagai mitra tetapi rivalitas
Oleh: Shalih Hasyim
Hidayatullah.com--Majalah “Kedaulatan Rakyat” Edisi Ahad Wage, 7 Maret 2010 (21 Maulid 1431 H) mengangkat kisah seorang pria bernama BST (45) berasal dari Yogyakarta, berkeluarga dengan 3 anak. Dia adalah pengusaha sukses bakpia dan makanan khas Yogyakarta dan lainnya di Kota Gudeg. Usaha bisnis yang telah dijalani selama 20 tahun terbilang cukup maju. Tiap hari, secara rutin (ajeg, Bhs Jawa), bus mini boks membawa bakpia dan makanan lain ke kota Klaten, Purworejo, Magelang, Salatiga, berjalan dengan lancar, tanpa hambatan yang berarti. Demikian pula penjualan di dalam kota Yogyakarta sendiri, cukup berhasil, terutama di hari-hari libur tiga hari.

Istrinya duduk di bagian kasir, mengatur sirkulasi keuangan dan mengelola serta mengendalikan para pegawai yang berjumlah tidak terlalu besar (20 orang). Dia juga mampu membuka cabang, dua tempat di pinggiran kota Daerah Istimewa Yogyakarta itu. Dua cabang terakhir juga mengalami kemajuan yang pesat. Adik-adiknya duduk sebagai kasir. Akhirnya pengusaha itu nyaris tidak ada peluang untuk aktualisasi diri. Tidak ada lagi job (bidang garap) yang dikerjakan. Perusahaannya sudah berjalan sesuai dengan sistem dan mekanisme yang berlaku.

“Saya sudah mempunyai apa yang saya cita-citakan waktu muda dulu, “katanya. Bisnis yang maju, karir yang memuncak, rumah dan mobil yang dimilikinya lebih dari satu. Pendapatan yang cukup mapan. Lebih dari kebutuhan. Keluarga yang harmonis. Karyawan yang mudah diatur dan giat bekerja. Tidak ada tantangan lagi untuk memacu produktifitasnya. Semua pekerjaan sudah terbagi habis dan berjalan lancar. Jadi, ia merasa semua obsesinya pada masa mudanya sudah terpenuhi, bahkan berlebih.

Tapi, ia mengalami kejenuhan dan kebosanan hidup. Ia tidak bisa menyeimbangkan antara kebutuhan potensialisasi diri dan aktualisasi diri. Lalu, ia seringkali berfikir apa arti hidup saya ini? Kemana arah kehidupan saya ini? Untuk apa saya memperoleh semua ini? Setelah berlebih, mau kemana?

Untuk mengantisipasi kejenuhan seperti ini ia lalu memilih untuk mengisi kekosongan jiwanya dengan main judi dengan teman-teman seprofesinya. Ternyata, main judi tidak selalu menghiburnya. Ia mencari jalan keluar yang bersifat artifisial dan sesaat. Kejenuhan hadir kembali, dirasakan setelah selesai bermain judi. Ada titik kejenuhan yang memenjara jiwa. Kemudian ia berkonsultasi dengan dokter jiwa (psikiater) tentang makna kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar